pertanyaan sehubungan dengan topik dilema etika dan bujukan moral
1 SIKAP. Sikap adalah suatu hal yang mempelajari mengenai seluruh tendensi tindakan, baik yang menguntungkan maupun yang kurang menguntungkan, tujuan manusia, objek, gagasan, atau situasi. Istilah objek dalam sikap digunakan untuk memasukkan semua objek yang mengarah pada reaksi seseorang. Komponen Sikap.
View20140410113444_Topik 1 Pertimbangan Moral dan Teori Etika from FSKTM BIT21002 at Tun Hussein Onn University of Malaysia. Topik X Pertimbangan 1 Moral dan Teori Etika HASIL PEMBELAJARAN Pada. Study Resources. Main Menu; by School; by Literature Title; by Subject; Textbook Solutions Expert Tutors Earn. Main Menu;
Secaraumum dilima ini dikelompokkan menjadi dua yaitu dilima etika dan bujukan moral. Dilima etika merupaka situasi benar vs benar. Artinya bahwa situasi yang terjadi ketika sesorang harus memilih diantara dua pilihan dimana kedua pilihan secara moral benar tetapi bertentengan. Misalnya ketika orang menentukan pilihan antara aturan dengan kasihan.
Dilema Etika dan Bujukan MoralOleh Abdul Azis, SD Negeri Ai Puntuk Hilir /Pengajar Praktik CGP Angkatan 7Bersalaman, Sumber etika benar vs benar adalah situasi yang terjadi ketika seseorang harus memilih antara dua pilihan dimana kedua pilihan secara moral benar tetapi bertentangan. Sedangkan bujukan moral benar vs salah yaitu situasi yang terjadi ketika seseorang harus membuat keputusan antara benar dan salah. Dari proses pengalaman kita sehari hari dalam bekerja di manapun tentu kita telah mengetahui bahwa dilema etika adalah hal berat yang harus dihadapi dari waktu ke waktu. Ketika kita menghadapi situasi dilema etika, akan ada nilai-nilai kebajikan mendasar yang bertentangan seperti cinta dan kasih sayang, kebenaran, keadilan, kebebasan, persatuan, toleransi, tanggung jawab dan penghargaan akan hidup dalam berkehidupan sosial kemasyarakatan. Dibawah ini sedikit saya berbagi untuk mengurai bagaimana dilema etika dan bujukan moral itu sendiri. Paradigma Dilema Etika Secara umum ada pola, model, atau paradigma yang terjadi pada situasi dilema etika yang bisa dikategorikan seperti di bawah ini 1. Individu lawan masyarakat individual vs community Dalam paradigma ini ada pertentangan antara individu yang berdiri sendiri melawan sebuah kelompok yang lebih besar di mana individu ini juga menjadi bagiannya. Bisa juga konflik antara kepentingan pribadi melawan kepentingan orang lain, atau kelompok kecil melawan kelompok besar. “Individu” di dalam paradigma ini tidak selalu berarti “satu orang”. Ini juga dapat berarti kelompok kecil dalam hubungannya dengan kelompok yang lebih besar. Seperti juga “kelompok” dalam paradigma ini dapat berarti kelompok yang lebih besar lagi. Itu dapat berarti kelompok masyarakat kota yang sesungguhnya, tapi juga bisa berarti kelompok sekolah, sebuah kelompok keluarga, atau keluarga Kita. Dilema individu melawan masyarakat adalah bagaimana membuat pilihan antara apa yang benar untuk satu orang atau kelompok kecil , dan apa yang benar untuk yang lain, kelompok yang lebih besar. Guru kadang harus membuat pilihan seperti ini di dalam kelas. Bila satu kelompok membutuhkan waktu yang lebih banyak pada sebuah tugas, tapi kelompok yang lain sudah siap untuk ke pelajaran berikutnya, apakah pilihan benar yang harus dibuat? Guru mungkin menghadapi dilema individu lawan kelompok. 2. Rasa keadilan lawan rasa kasihan justice vs mercy Dalam paradigma ini ada pilihan antara mengikuti aturan tertulis atau tidak mengikuti aturan sepenuhnya. Pilihan yang ada adalah memilih antara keadilan dan perlakuan yang sama bagi semua orang di satu sisi, dan membuat pengecualian karena kemurahan hati dan kasih sayang, di sisi lain. Kadang memang benar untuk memegang peraturan, tapi terkadang membuat pengecualian juga merupakan tindakan yang benar. Pilihan untuk menuruti peraturan dapat dibuat berdasarkan rasa hormat terhadap keadilan atau sama rata. Pilihan untuk membengkokkan peraturan dapat dibuat berdasarkan rasa kasihan kebaikan Misalnya ada peraturan di rumah Kita harus ada di rumah pada saat makan malam. Misalnya suatu hari Kita pulang ke rumah terlambat karena seorang teman membutuhkan bantuan kita. Ini dapat menunjukkan dilema keadilan lawan rasa kasihan, terhadap orang tua Kita. Apakah ada konsekuensi dari melanggar peraturan tentang pulang ke rumah tepat waktu untuk makan malam, atau haruskah orang tua kita membuat pengecualian? 3. Kebenaran lawan kesetiaan truth vs loyalty Kejujuran dan kesetiaan seringkali menjadi nilai-nilai yang bertentangan dalam situasi dilema etika. Kadang kita perlu untuk membuat pilihan antara berlaku jujur dan berlaku setia atau bertanggung jawab kepada orang lain. Apakah kita akan jujur menyampaikan informasi berdasarkan fakta atau kita menjunjung nilai kesetiaan pada profesi, kelompok tertentu, atau komitmen yang telah dibuat sebelumnya. Hampir dari kita semua pernah mengalami harus memilih antara mengatakan yang sebenarnya atau melindungi teman saudara yang dalam masalah. Ini adalah salah satu contoh dari pilihan atas kebenaran melawan kesetiaan. 4. Jangka pendek lawan jangka panjang short term vs long term Paradigma ini paling sering terjadi dan mudah diamati. Kadang perlu untuk memilih antara yang kelihatannya terbaik untuk saat ini dan yang terbaik untuk masa yang akan datang. Paradigma ini bisa terjadi di level personal dan permasalahan sehari-hari, atau pada level yang lebih luas, misalnya pada issue-issue dunia secara global, misalnya lingkungan hidup dll. Orang tua kadang harus membuat pilihan ini. Contohnya Mereka harus memilih antara seberapa banyak uang untuk digunakan sekarang dan seberapa banyak untuk ditabung nanti. Pernahkah Kita harus memilih antara bersenang-senang atau melatih instrumen musik atau berolahraga? Bila iya, Kita telah membuat pilihan antara jangka pendek melawan jangka panjang. Prinsip Dilema Etika Etika terkait dengan karsa karena manusia memiliki kesadaran moral. Sementara akal dan moral dua dimensi manusia yang saling berkaitan. Etika terkait dengan karsa karena manusia memiliki kesadaran moral. Rukiyanti, L. Andriyani, Haryatmoko, Etika Pendidikan, hal. 43. Dari kutipan di atas kita bisa menarik kesimpulan bahwa karsa merupakan suatu unsur yang tidak terpisahkan dari perilaku manusia. Karsa ini pun berhubungan dengan nilai-nilai atau prinsip-prinsip yang dianut oleh seseorang, disadari atau pun tidak. Nilai-nilai atau prinsip-prinsip inilah yang mendasari pemikiran seseorang dalam mengambil suatu keputusan yang mengandung unsur dilema etika. Berikut ada 3 tiga pernyataan dalam sebuah kasus ketika akan mengambil keputusan 1. Melakukan, demi kebaikan orang banyak. 2. Menjunjung tinggi prinsip-prinsip/nilai-nilai dalam diri Kita. 3. Melakukan apa yang Kita harapkan orang lain akan lakukan kepada diri Kita. Selama ini pada saat mengambil keputusan, lkitasan pemikiran kita memiliki kecenderungan pada prinsip nomor 1, 2, atau 3? Etika tentunya bersifat relatif dan bergantung pada kondisi dan situasi, dan tidak ada aturan baku yang berlaku. Tentunya ada prinsip-prinsip yang lain, namun ketiga prinsip di sini adalah yang paling sering dikenali dan digunakan. Dalam seminar-seminar, ketiga prinsip ini yang seringkali membantu dalam menghadapi pilihan-pilihan yang penuh tantangan, yang harus dihadapi pada dunia saat ini. Kidder, 2009, hal 144. Ketiga prinsip tersebut adalah 1. Berpikir Berbasis Hasil Akhir Ends-Based Thinking 2. Berpikir Berbasis Peraturan Rule-Based Thinking 3. Berpikir Berbasis Rasa Peduli Care-Based Thinking Berikut 9 langkah Pengambilan Keputusan Di bawah ini adalah 9 langkah yang telah disusun secara berurutan untuk memandu kita dalam mengambil keputusan pada situasi dilema etika yang membingungkan karena adanya beberapa nilai-nilai yang bertentangan. Langkah 1. Mengenali bahwa ada nilai-nilai yang saling bertentangan dalam situasi ini. Ada 2 alasan mengapa langkah ini adalah langkah yang penting dalam pengujian keputusan. Alasan yang pertama, langkah ini mengharuskan kita untuk mengidentifikasi masalah yang perlu diperhatikan, alih-alih langsung mengambil keputusan tanpa menilainya dengan lebih saksama. Alasan yang kedua adalah karena langkah ini akan membuat kita menyaring masalah yang betul-betul berhubungan dengan aspek moral, bukan masalah yang berhubungan dengan sopan santun dan norma sosial. Untuk mengenali hal ini bukanlah hal yang mudah. Kalau kita terlalu berlebihan dalam menerapkan langkah ini, dapat membuat kita menjadi orang yang terlalu mendewakan aspek moral, sehingga kita akan mempermasalahkan setiap kesalahan yang paling kecil pun. Sebaliknya bila kita terlalu permisif, maka kita bisa menjadi apatis dan tidak bisa mengenali aspek-aspek permasalahan etika lagi. Langkah 2. Menentukan siapa yang terlibat dalam situasi ini. Bila kita telah mengenali bahwa ada masalah moral di situasi tertentu. Pertanyaannya adalah dilema siapakah ini? Hal yang seharusnya membedakan bukanlah pertanyaan apakah ini dilema saya atau bukan. Karena dalam hubungannya dengan permasalahan moral, kita semua seharusnya merasa terpanggil. Langkah 3 Kumpulkan fakta-fakta yang relevan dengan situasi ini. Pengambilan keputusan yang baik membutuhkan data yang lengkap dan detail, seperti misalnya apa yang terjadi di awal situasi tersebut, bagaimana hal itu terkuak, dan apa yang akhirnya terjadi, siapa berkata apa pada siapa, kapan mereka mengatakannya. Data-data tersebut penting untuk kita ketahui karena dilema etika tidak menyangkut hal-hal yang bersifat teori, namun ada faktor-faktor pendorong dan penarik yang nyata di mana data yang mendetail akan bisa menggambarkan alasan seseorang melakukan sesuatu dan kepribadian seseorang akan tercermin dalam situasi tersebut. Hal yang juga penting di sini adalah analisis terhadap hal-hal apa saja yang potensial akan terjadi di waktu yang akan datang. Langkah 4 Pengujian benar atau salah, meliputi a. Uji Legal Pertanyaan yang harus diajukan disini adalah apakah dilema etika itu menyangkut aspek pelanggaran hukum. Bila jawabannya adalah iya, maka pilihan yang ada bukanlah antara benar lawan benar, namun antara benar lawan salah. Pilihannya menjadi membuat keputusan yang mematuhi hukum atau tidak, bukannya keputusan yang berhubungan dengan moral. b. Uji Regulasi/Stkitar Profesional Bila dilema etika tidak memiliki aspek pelanggaran hukum di dalamnya, mungkin ada pelanggaran peraturan atau kode etik. Konflik yang terjadi pada seorang wartawan yang harus melindungi sumber beritanya, seorang agen real estate yang tahu bahwa seorang calon pembeli potensial sebelumnya telah dihubungi oleh koleganya? Kita tidak bisa dihukum karena melanggar kode etik profesi kita, tapi kita akan kehilangan respek sehubungan dengan profesi Kita. c. Uji Intuisi Langkah ini mengkitalkan tingkatan perasaan dan intuisi kita dalam merasakan apakah ada yang salah dengan situasi ini. Apakah tindakan ini mengandung hal-hal yang akan membuat kita merasa dicurigai. Uji intuisi ini akan mempertanyakan apakah tindakan ini sejalan atau berlawanan dengan nilai-nilai yang kita yakini. Walaupun mungkin kita tidak bisa dengan jelas dan langsung menunjuk permasalahannya ada di mana. Langkah ini, untuk banyak orang, sangat umum dan bisa dikitalkan untuk melihat dilema etika yang melibatkan dua nilai yang sama-sama benar. d. Uji Halaman Depan Koran Apa yang Kita akan rasakan bila keputusan ini dipublikasikan pada halaman depan dari koran dan sesuatu yang Kita anggap merupakan ranah pribadi Kita tiba-tiba menjadi konsumsi masyarakat? Bila Kita merasa tidak nyaman membayangkan hal itu akan terjadi, kemungkinan besar Kita sedang menghadapi dilema etika. e. Uji Panutan/Idola Dalam langkah ini, kita akan membayangkan apa yang akan dilakukan oleh seseorang yang merupakan panutan kita, misalnya ibu kita. Tentunya di sini fokusnya bukanlah pada ibu kita, namun keputusan apa yang kira-kira akan beliau ambil, karena beliau adalah orang yang menyayangi kita dan orang yang sangat berarti bagi lingkungan kita. Yang perlu dicatat dari kelima uji keputusan tadi, ada tiga uji yang sejalan dengan prinsip pengambilan keputusan yaitu Uji Intuisi berhubungan dengan berpikir berbasis peraturan Rule-Based Thinking yang tidak bertanya tentang konsekuensi tapi bertanya tentang prinsip-prinsip yang mendalam. Uji halaman depan koran, sebaliknya, berhubungan dengan berpikir berbasis hasil akhir Ends-Based Thinking yang mementingkan hasil akhir. Uji Panutan/Idola berhubungan dengan prinsip berpikir berbasis rasa peduli Care-Based Thinking, di mana ini berhubungan dengan golden rule yang meminta Kita meletakkan diri Kita pada posisi orang lain. Bila situasi dilema etika yang Kita hadapi, gagal di salah satu uji keputusan tersebut atau bahkan lebih dari satu, maka sebaiknya jangan mengambil risiko membuat keputusan yang membahayakan atau merugikan diri Kita karena situasi yang Kita hadapi bukanlah situasi moral dilema, namun bujukan moral. Langkah 5 Pengujian Paradigma Benar lawan Benar. Dari keempat paradigma berikut ini, paradigma mana yang terjadi di situasi ini? 1. Individu lawan masyarakat individual vs community 2. Rasa keadilan lawan rasa kasihan justice vs mercy 3. Kebenaran lawan kesetiaan truth vs loyalty 4. Jangka pendek lawan jangka panjang short term vs long term Apa pentingnya mengidentifikasi paradigma, ini bukan hanya mengelompokkan permasalahan namun membawa penajaman pada fokus kenyataan bahwa situasi ini betul-betul mempertentangkan antara dua nilai-nilai inti kebajikan yang sama-sama penting. Langkah 6 Melakukan Prinsip Resolusi Dari 3 prinsip penyelesaian dilema, mana yang akan dipakai? o Berpikir Berbasis Hasil Akhir Ends-Based Thinking o Berpikir Berbasis Peraturan Rule-Based Thinking o Berpikir Berbasis Rasa Peduli Care-Based Thinking Langkah 7 Investigasi Opsi Trilema Mencari opsi yang ada di antara 2 opsi. Apakah ada cara untuk berkompromi dalam situasi ini. Terkadang akan muncul sebuah penyelesaian yang kreatif dan tidak terpikir sebelumnya yang bisa saja muncul di tengah-tengah kebingungan menyelesaikan masalah Langkah 8 Buat Keputusan Akhirnya kita akan sampai pada titik di mana kita harus membuat keputusan yang membutuhkan keberanian secara moral untuk melakukannya. Langkah 9 Lihat lagi Keputusan dan Refleksikan Ketika keputusan sudah diambil. Lihat kembali proses pengambilan keputusan dan ambil pelajarannya untuk dijadikan acuan bagi kasus-kasus selanjutnya. Editor Ruslan Wahid Penulis Abdul Azis
DilemaEtika dan Bujukan Moral Dilema Etika (Benar vs Benar) Adalah situasi yang terjadi ketika seseorang harus memilih antara dua pilihan dimana kedua pilihan secara moral benar tapi bertentangan.
Syaiful Rahman, Angkatan 3 _Jember 2Apa itu dilema etika ethical dilemma dan bujukan moral moral temptation ?Dalam setiap interaksi sosial di keluarga, masyarakat, komunitas sosial dan dimanapun kita berada tak terkecuali di sekolah mengalami “kesulitan” dalam mengambil sebuah keputusan karena sebuah pertimbangan nilai-nilai kebajikan yang berlaku universal. Sering dalam kenyataannya kita beraktivitas harus memilih diantara dua pilihan atau lebih sebagai bentuk keputusan yang diambil. Dalam setiap permasalahan yang kita hadapi penting diambil keputusan yang tepat dan bertanggungjawab dengan tidak mengenyampingkan nilai-nilai kebajikan universal dan tidak pula bertentangan dengan peraturan, regulasi yang bersama kita pahami “Apa itu Dilema Etika dan Bujukan Moral ?”Situasi yang terjadi ketika kita harus memilih diantara dua pilihan yang secara moral dinilai benar tetapi bertentangan dapat kita kategorikan dilema etika. Sedangkan jika dalam situasi tersebut kita harus memilih antara benar atau salah maka hal tersebut dikategorikan sebagai bujukan contoh Kasus 1 Pak Say seorang guru di SMA Penggerak, suatu ketika Pak Say diundang tetangganya dalam acara pernikahan. Acara tersebut dilaksanakan pada saat jam mengajar. Keputusan apa yang harus Pak Say ambil ? Kasus 2 Ibu Dewi adalah pembina ekstrakurikuler Paskibra di SMA Penggerak. Pada saat tiba pengajuan seleksi Paskab Paskibra Kabupaten , Toni sebagai senior Paskibra sekolah menghampiri Ibu Dewi dan menyampaikan bahwa jika Ibu Dewi mengikut sertakan adiknya dalam seleksi Paskab tersebut, orang tua Toni akan memberi hadiah sepasang sepatu kepada Ibu Dewi. Situasi apa yang terjadi terhadap Ibu Dewi ?Dari dua kasus diatas, kasus 1 merupakan dilema etika karena situasi yang dihadapi Pak Syaiful adalah situasi yang sama-sama benar , sedangkan pada kasus 2 merupakan bujukan moral karena situasi yang dihadapi Ibu Dewi harus memilih antara benar atau bermanfaat bagi kita semua.Belajar_Berbagi_Beramal BangkitGuruku_MajuNegeriku
Dandengan mempejarari dan menerapkan modul ini keputusan yang kita ambil akan tepat. Jawaban no 6: saya berharap bisa dan mampu menerapkan dan mempraktikkan materi yang saya pelajari di sekolah maupun masyarakat pada saat dihadapkan situasi dilema etika dan bujukan moral. Selain itu saya akan berusaha berbagi ilmu ini dengan teman disekolah.
.
pertanyaan sehubungan dengan topik dilema etika dan bujukan moral